Apa Itu Ungko?
Ungko (Hylobates agilis), atau dikenal juga sebagai Agile Gibbon, adalah primata arboreal yang termasuk dalam famili Hylobatidae. Satwa ini merupakan salah satu kera tanpa ekor (ape) terkecil di dunia dan endemik di hutan-hutan tropis Sumatera serta Semenanjung Malaya.
Ungko hidup di kanopi hutan dan bergerak dengan teknik brakiasi, yaitu berayun dari dahan ke dahan menggunakan tangan yang panjang dan kuat. Hewan ini hidup berpasangan monogami dan memiliki wilayah jelajah yang dijaga ketat dari individu atau kelompok lain.
Karakteristik Ungko & Pentingnya Pemantauan
Ungko memiliki karakter biologis dan perilaku yang menjadikannya subjek penelitian konservasi yang ideal, sekaligus membutuhkan perhatian serius dalam upaya pelestariannya.
Karakteristik Kunci Ungko
Setiap pasangan ungko menghasilkan pola vokalisasi yang berbeda. Kombinasi antara suara jantan dan betina membentuk duet yang unik. Pola ini konsisten untuk setiap pasangan sehingga dapat digunakan sebagai “sidik jari akustik” untuk mengidentifikasi individu dan kelompok dari jarak jauh.
Ungko bersifat teritorial. Nyanyian pada pagi hari berfungsi untuk mempertahankan wilayah dan memperkuat ikatan pasangan. Kebiasaan bersuara pada waktu yang relatif tetap setiap harinya menjadikan survei berbasis suara sangat efektif dan efisien.
Mengapa Pemantauan Penting?
Pemantauan ungko berfungsi untuk memantau populasi ungko, melihat sebaran populasi, serta mengevaluasi efektivitas program konservasi di Hutan Harapan.
Waktu Aktif Bersuara & Lokasi Pengamatan
Keberhasilan survei akustik sangat bergantung pada pemilihan waktu yang tepat. Ungko menunjukkan pola vokalisasi yang konsisten dan dapat diprediksi.
Pukul 05.30 – 10.00 WIB merupakan jendela waktu terbaik untuk mendengar nyanyian ungko.
Kriteria Pemilihan Lokasi
Titik-titik pengamatan (listening post) dipilih berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:
- ketinggian medan yang memungkinkan jangkauan suara optimal
- jarak antar titik sekitar 1,5–2 km
- aksesibilitas bagi pengamat
- cakupan terhadap kawasan hutan yang ingin dipantau
Dalam pengamatan ungko di Hutan Harapan, kegiatan dilakukan di lokasi Sungai Lalan.
Alat dan Bahan Pengamatan
Peralatan survei yang dibutuhkan antara lain:
- Tally sheet dan alat tulis
- Jam (menggunakan jam GPS)
- Kompas
- GPS Garmin
- Binokuler
- Peta
Metode Triangulasi dalam Pengamatan Ungko
Triangulasi akustik adalah metode estimasi lokasi sumber suara menggunakan data arah (azimuth) yang dikumpulkan secara bersamaan dari tiga atau lebih titik pengamatan yang berbeda.
Metode ini dipilih karena ungko sering kali sulit diamati secara visual di kanopi hutan yang lebat. Namun, suaranya yang lantang dan khas memungkinkan deteksi dari jarak jauh sehingga pendekatan akustik lebih efektif dibandingkan pengamatan langsung.
Prinsip Dasar
Tiga titik pengamat (A, B, dan C) mencatat arah datangnya suara secara bersamaan. Garis azimuth dari masing-masing titik kemudian digambar pada peta. Titik pertemuan ketiga garis tersebut merepresentasikan lokasi ungko yang sedang bersuara.

Langkah-langkah Pelaksanaan
1. Penentuan Titik Pengamatan (Listening Post)
Sebelum survei dilakukan, tim riset menentukan dan memvalidasi titik-titik pengamatan di lapangan. Setiap titik harus memiliki jangkauan dengar yang baik, dapat diakses sebelum pukul 05.30 WIB, serta telah dicatat koordinat GPS-nya.
2. Pengamatan Serentak
Seluruh tim pengamat harus berada di posisi masing-masing sebelum batas waktu yang disepakati (biasanya pukul 06.00 WIB).
Saat suara ungko terdengar, setiap pengamat secara bersamaan mencatat:
- waktu mulai vokalisasi
- azimuth (arah kompas) sumber suara
- durasi nyanyian
Penulis:
Mahasiswa Magang Universitas Muhammadiyah Palembang








