Restoring Indonesia's Forest
for Future Needs

Pengurangan Risiko Bencana Komunitas Adat

JAMBI - PT Restorasi Ekosistem Indonesia bekerja sama dengan KKI Warsi menggelar Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Bagi Komunitas Adat, Rabu-Kamis, 30-31 Mei 2018.  Pelatihan yang diadakan di Base Camp Hutan Harapan ini diikuti oleh 17 perwakilan empat komunitas adat di Jambi, yakni  Orang Rimba Bukit Duabelas, Orang Rimba Jalan Lintas, Talang Mamak, dan Batin Sembilan.

Hasil pelatihan diharapkan berdampak lebih luas kepada masyarakat adat lainnya melalui para peserta. “Terima kasih kepada KKI Warsi yang menjadi inisiator kegiatan kolborasi Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana bagi Komunitas Adat ini,” kata Direktur Operasional PT Restorasi Ekosistem Indonesia Lisman Sumardjani saat membuka acara.

Lisman berharap kegiatan ini dapat menjadi media penyadartahuan bagi komunitas adat, termasuk Batin Sembilan yang ada di Hutan Harapan, agar secara bersama dan bijaksana memanfaatkan lingkungan. Pemanfaatan sumber daya lingkungan secara berlebihan cenderung merusak lingkungan itu sendiri yang selanjutnya memperbesar kemungkinan risiko bencana alam.

Dijelaskan, banyak hal yang telah dilakukan PT Reki dalam penyelamatan lingkungan, seperti perlindungan fauna dan flora khas  serta support bagi kehidupan komunitas Batin Sembilan. Selain untuk keseimbangan alam, kegiatan tersebut sekaligus bagian dari proses mengurangi risiko bencana.

Materi pelatihan disampaikan oleh Kepala Markas PMI Provinsi Jambi Astrid Firdianto yang juga Fasilitator Pengurangan Resiko Bencana BPBD Provinsi Jambi dan staf KKI Warsi. Dilakukan penggalian pemahaman peserta tentang bencana dan alternatif yang paling memungkinkan untuk meminimalisir resiko bencana yang mungkin melanda komunitas adat.

Bencana yang paling umum dan berdampak luas pada saat ini adalah kebakaran hutan. Bencana ini sangat mengganggu ekosistem alam yang merupakan rumah bagi sebagian besar komunitas adat di Indonesia.

Materi lainnya yang disampaikan adalah pemahaman terminologi perubahan iklim dan bencana, keterkaitan perubahan iklim dan bencana, bencana ekologis sebagai dampak dari perubahan iklim serta upaya peredaman risiko bencana.

Astrid mengharapkan agar dengan pelatihan ini komunitas adat memiliki kemampuan menganalisa dan merumuskan perencanaan dalam mengintegrasikan kegiatan pengurangan resiko bencana dan dampak perubahan iklim. 

Kristiawan dari KKI Warsi memaparkan, masyarakat adat selama ini merupakan kelompok paling rentan terhadap bencana yang mungkin datang di lingkungan mereka. Di sisi lain mereka belum terlalu siap akan dampak bencana yang mungkin datang.

“Untuk itulah setelah, pelatihan ini kita harapkan masyarakat mampu mengidentifikasi potensi bencana di sekitar mereka dan membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana ,” katanya.

Penulis: Fakhruddin, Penyunting: Joni Rizal

Join Initiative of

Supported by