Restoring Indonesia's Forest
for Future Needs

Pengembangan Kemitraan Masyarakat

Program kemitraan masyarakat (community partnership) Hutan Harapan dikelola untuk menjamin stabilisasi kawasan sehingga mampu memberikan dampak ekologi, sosial dan ekonomi secara luas. Departemen Kemitraan Masyarakat dan departemen lainnya di Hutan Harapan menjalankan program tersebut dengan mengusung semangat “Restorasi bersama Masyarakat”.

1. Community Development (Comdev) and Support

Program Comdev and Support dilaksanakan dengan menyasar kelompok masyarakat Batin Sembilan, Melayu Lokal dan masyarakat lainnya yang berkepentingan dengan Hutan Harapan.

Pemukiman Batin Sembilan
Manajemen Hutan Harapan membangun dan mengembangkan pemukiman khusus bagi masyarakat Batin Sembilan yang mau menetap di kawasan Mitazone atau Zona Mitra. Lokasinya tidak jauh dari base camp Hutan Harapan. Di kawasan ini dibangun sejumlah fasilitas sosial, seperti mushala, didukung penerangan listrik dan air bersih.  Mitrazone dihuni oleh sebanyak 32 rumah tangga yang umumnya hidup dari mengambil hasil hutan dan berkebun.

Sanitasi
Sanitasi dibangun untuk masyarakat Batin Sembilan di kawsan Mitrazone dan Simpang Macan  dengan memasang jaringan instalasi air bersih. Di Mitrazone, jaringan air bersih dilengkapi dengan bangunan kamar mandi, bak penampungan air dan WC. Sebuah tower air berkapasitas 2.000 liter dipasang di Simpang Macan, untuk menyuplai air bersih ke rumah-rumah masyarakat Batin Sembilan. Di Simpang Macan juga dibangun sarana tempat mandi mencuci dan WC atau sarana MCK (mandi, cuci, kakus).

Pendidikan Dasar
Hutan Harapan menyediakan sarana dan fasilitas Pendidikan Dasar bagi anak-anak Batin Sembilan yang ditampung untuk belajar di Sekolah Besamo. Tahun ini, Sekolah Besamo yang merupakan kelas jauh yang menginduk ke SDN 49/I Bungku, Kecamatan Bajubang ini, sudah meluluskan enam siswa kelas VI.  Sekolah ini diajar dan dikelola oleh dua guru yang digaji oleh manajemen Hutan Harapan dengan jumlah murid total 32 orang.

Kesehatan Dasar
Departemen Kemitraan juga mengimplementasikan program Kesehatan Dasar dengan menyediakan klinik gratis bagi masyarakat Batin Sembilan yang hidup dalam kawasan dan sekitar Hutan Harapan.

Di Klinik Besamo, masyarakat bisa mendapatkan bantuan obat, perawatan dan bahkan layanan dokter on call. Pada hari-hari tertentu dilakukan sosialisasi tentang kebersihan lingkungan sembari bergotong royong membersihkan lingkungan. Ada pula kunjungan rutin atau pusat kesehatan keliling (pusling) dan pos pelayanan terpadu (posyandu) untuk ibu dan anak bersama dokter puskesmas terdekat. Koordinasi dilakukan dengan Dinas Kesehatan untuk dukungan bantuan kesehatan masyarakat.

Sosial Budaya dan Ekonomi
Departemen Kemitraan juga menjalankan program pengembangan Sosial Budaya melalui pengumpulan data dan informasi tentang kesenian, folklore, sistem tradisi, kelembagaan adat Batin Sembilan. Data dan informasi disusun untuk memperoleh gambaran pengembangan sosial dan budaya. Untuk peningkatan pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan, dilakukan identifikasi sumber-sumber ekonomi masyarakat dan pembinaan serta pelatihan.
 
Community Nursery
Pelibatan masyarakat Batin Sembilan juga dilakukan di bawah Departemen Penanaman, yakni di divisi pembibitan. Masyarakat Batin Sembilan dimobilisasi mencari bibit-bibit tanaman asli di dalam Hutan Harapan lalu dibekali cara melakukan pembibitan, perawatan hingga ke penanaman. Kepada mereka diberikan upah yang layak.

2. Kemitraan Kehutanan
Kemitraan kehutanan berlandaskan pada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.39/Menhut-II/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat melalui Kemitraan Kehutanan. Dengan peraturan ini, masyarakat diberi keleluasaan mengelola hutan dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dan konsep pengelolaan hutan berkelanjutan. Jenis tanamannya dianjurkan tanaman kehidupan, kehutanan dengan pola agroforestry.

Kemitraan Kehutanan adalah kerjasama antara masyarakat setempat dengan pemegang izin pemanfaatan hutan atau pengelola hutan yang dituangkan dalam naskah perjanjian kemitraan kehutanan. Sasaran kemitraan kehutanan di Hutan Harapan meliputi, masyarakat Batin Sembilan, Melayu Lokal, dan pendatang-penggarap. Melalui kemitraan, manajemen Hutan Harapan berharap hutan lestari dan masyarakat sejahtera.
 

Tanaman Kehidupan
Kemitraan kehutanan dengan masyarakat Batin Sembilan dikelola melalui kemitraan pengembangan Tanaman Kehidupan. Manajemen Hutan Harapan membantu bibit dan menyediakan demonstration plot (demplot) atau kebun percontohan sebagai wahana belajar Batin Sembilan. Empat kelompok Batin Sembilan telah menanda tangani kemitraan kehutanan dengan Hutan Harapan, yakni Kelompok Tanding, Kelompok Mitrazone, Kelompok Gelinding, dan Kelompok Simpang Macan Luar (SML).

Kemitraan juga dibangun dengan kelompok masyarakat lainnya yang sejak lama memiliki mata pencarian di Hutan Harapan. Masyarakat Melayu Lokal sudah lama bersepakat, menjalin kerja sama dan saling menjaga di Hutan Harapan, seperti masyarakat Kapas Tengah (Kelompok Romli), Sepintun, dan lainnya.

Resolusi Konflik
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.39/Menhut-II/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat melalui Kemitraan Kehutanan menjadi salah satu landasan manajemen Hutan Harapan dalam meresolusi konflik. Ancaman terhadap Hutan Harapan saat ini semakin besar dengan bertambahkan stakeholder dengan berbagai afiliasi nasional dan internasional mengambil peran dalam pusaran konflik lahan.

Manajemen Hutan Harapan menghadapi penyelesaian konflik melalui pelibatan berbagai pihak di berbagai level, mulai dari tingkat masyarakat sampai ke pemerintah pusat, mulai dari aparat keamanan hingga lembaga swadaya masyarakat. Beberapa konflik terselesaikan hingga berujung kepada kesepakatan kerja sama kehutanan, beberapa lagi memasuki babak negosiasi dan mediasi.

Salah satu kelompok penggarap hutan pada 2016 mencapai kesepakatan dengan Hutan Harapan, yakni Kelompok Trimakno di Kunangan Jaya 1, yang kini sudah memasuki masa implementasi.

Kelompok penggarap yang teridentifikasi dan belum mencapai kesepakatan, antara lain, Kelompok Narwanto di Kunangan Jaya 1, Kelompok Kunangan Jaya 2 (dimotori Serikat Tani Nasional/STN), Kelompok Alam Sakti, Tanjung Mandiri, Batin Sembilan Pangkalan Ranjau, Kelompok dimotori Serikat Petani Indonesia(SPI), Hulu Kapas, Hulu Badak, Pagar Desa dan lainnya.

3. Kolaborasi dengan KPH
Untuk menjaga stabilitas lahan, manajemen Hutan Harapan juga membangun     kolaborasi dengan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) dan membangun komunikasi serta hubungan untuk menilai, mengidentifikasi dan konsultasi tentang isu-isu penting. Salah satu kerja sama dilakukan Hutan Harapan dan Burung Indonesia dengan KPH Meranti di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.  

4. Mekanisme Komplain    
Mekanisme komplain dikembangnkan antara lain untuk mengumpulkan data, informasi dan menilai sumber-sumber komplain masyarakat. Analisa komplain diperlukan dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan restorasi ekosistem. Ini juga merupakan bagian komitmen manajemen Hutan Harapan terhadap pemenuhan atas standar hak-hak asasi manusia (HAM).

Komitmen pemenuhan standar HAM ini diumumkan langsung oleh Presiden Direktur PT Reki Effendy A Sumardja dan ditanggapi banyak pihak dalam konsultasi publik di Palembang (Sumsel) pada akhir 2015 dan di Jambi pada awal 2016. Dengan komitmen ini, manajemen Hutan Harapan memastikan kegiatan Restorasi Ekosistem respek terhadap HAM dan memberikan dampak positif terhadap para pihak, terutama masyatakat adat, lokal, dan masyarakat terdampak.(*)

 

Join Initiative of

Supported by