Restoring Indonesia's Forest
for Future Needs

Memberdayakan Masyarakat Melalui Homestay

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu bagian terpenting dari kegiatan restorasi ekosistem (RE) di Hutan Harapan, terutama masyarakat Suku Batin Sembilan yang kehidupannya masih tertinggal. Masyarakat yang akrab dengan kehidupan hutan ini bisa diedukasi dengan cara membantu mereka membuka interaksi dengan orang luar.

Salah satu aktivitas untuk mendukung tujuan tersebut adalah mengembangkan rumah-rumah penduduk Batin Sembilan di wilayah Sungai Kelompang menjadi homestay atau guest house bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Hutan Harapan. Sungai Kelompang sendiri sejatinya adalah kawasan pemukiman khusus masyarakat Batin Sembilan yang disediakan oleh manajemen Hutan Harapan.

Sebelum menempati rumah-rumah di Sungai Kelompang, mereka hidup berpencar di dalam hutan, dengan pondok-pondok kecil.  Mereka memiliki kebiasaan meramu (mengumpulkan hasil hutan) dan berburu serta memiliki kearifan tersendiri karena hanya mengambil hasil hutan bukan kayu, seperti madu, getah jelutung, jernang dan buah-buahan.

Masyarakat Batin Sembilan di Sungai Kelompang –sekitar 300 meter dari base camp Hutan Harapan-- tergabung ke dalam Marga Batin Kandang Rebo Bawah Bedaro yang berjumlah 23 keluarga. Kelompok ini telah menyepakati kemitraan kehutanan dengan PT Reki selaku pengelola Hutan Harapan pada 26 Desember 2015 dengan area kelola seluas 335 hektare.

Rumah-rumah yang akan dijadikan homestay dan keluarga dipilih, yakni mereka yang relatif sudah menetap, dan memiliki kemauan untuk mengembangkan diri. Lima rumah ini direnovasi sehingga memiliki kamar yang layak huni dengan kamar mandi yang memadai tanpa mengganggu bangunan utama. Semuanya adalah rumah kayu, yang bahkan masih ada yang beratap rumbia.

“Ini salah satu upaya PT Reki untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat, menggali potensi mereka yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan mereka. Pengembangan homestay menjadi salah satu pilihan karena ini dibangun bersama masyarakat dan akan memberikan banyak benefit,” ujar Syafrizal, supervisor pada Departemen Kemitraan PT Reki.

Pak Acong, demikian Syafrizal biasa dipanggil, menjelaskan bahwa entitas budaya dan kultur masyarakat Batin Sembilan menjadi nilai tersendiri yang akan ditawarkan kepada tamu-tamu yang berkegiatan di Hutan Harapan. Apalagi, tamu-tamu Hutan Harapan tidak sedikit yang berasal dari luar negeri, seperti dari negara Denmark, Inggris, Jerman, Singapura dan Jepang.

Pak Acong mencatat beberapa benefit dari program pengembangan homestay ini, yakni  trasformasi pengetahuan, bahasa dan budaya hidup yang lebih baik; meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola rumah; menambah pendapatan masyarakat (sewa kamar, guide, jasa makanan, dll.); dan terciptanya kampung wisata di Hutan Harapan.

Dengan berinteraksi dengan orang luar, langsung di rumah mereka melalui kegiatan sehari-hari, paling tidak masyarakat Batin Sembilan mengenal budaya hidup bersih dan sehat. Selama ini, kebersihan dan kesehatan belumnya menjadi perhatian utama masyarakat pedalaman ini.

“Target kita adalah lima homestay dapat berdiri di Sungai Kelompang, yang pembangunannya dibantu oleh PT Reki dengan standar kelayakan sebagai hunian yang bersih dan sehat. Saat ini proses pegembangan sedang berlangsung,” kata Pak Acong. Pengelolaan dan operasional homestay sepenuhnya oleh masyarakat, didampingi dan didukung staf PT Reki.**

Penulis: Joni Rizal

 

Join Initiative of

Supported by