Restoring Indonesia's Forest
for Future Needs

Memantau Hutan Harapan dengan Drone

Drone adalah pesawat tanpa awak  atau nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV) yang dikendalikan dari jarak jauh oleh pilot atau mengendalikan dirinya sendiri (autopilot). Drone terbang dengan menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya.

Perkembangan teknologi penginderaan jauh (inderaja/remote sensing) yang cepat sangat berguna dalam pengelolaan kawasan hutan, terutama untuk mendapatkan data dan informasi yang mendekati waktu terkini (near real time) yang penting dalam proses pengambilan keputusan. Kombinasi teknologi drone kini diterapkan dalam pembuatan peta dan dokumentasi foto/video sebagai aplikasi untuk proses perencanaan evaluasi dan pelaporan (PEP).

Kombinasi teknologi pesawat tanpa awak dan konsep pemetaan di bidang kehutanan bisa memberikan masukan terkait investasi jangka panjang. Ini merupakan bentuk survei berbiaya rendah (low cost survey) tetapi memberikan manfaat yang lebih banyak. Dengan drone, informasi dari data dan fakta lapangan yang cepat dan tepat diharapkan membantu pengelolaan hutan lebih baik.

Penggunaan drone sangat membantu untuk mengecek kondisi wilayah secara tepat waktu dan presisi. Hasil dari potret areal yang dipakai oleh drone memiliki kelebihan dari citra satelit yang umum digunakan. Dengan kemampuan drone terbang rendah di bawah awan, maka distorsi gambar akibat tutupan awan --salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam hasil potret citra satelit-- dapat dihindarkan.

Bahkan, drone dapat memotret secara detil obyek-obyek kecil di daratan dan karena itu drone cocok untuk fungsi pemotretan detail di wilayah tertentu. Untuk area jelajah, drone dapat diset untuk terbang mengikuti alur yang telah ditentukan. Dalam waktu sekitar dua jam setelah penerbangan, seluruh data hasil terbang drone yang diunggah ke komputer dapat muncul dalam bentuk tiga dimensi.

Sebelum adanya drone, pemantau kawasan Hutan Harapan hanya dilakukan dengan cara manual oleh patroli tim pengamanan hutan yang bisa memakan waktu, biaya yang besar dan sumber daya manusia yang banyak. Survei potensi, untuk mengumpulkan informasi tentang kepadatan hutan dari posisi pohon besar dan potensi regenerasi, sekaligus memperoleh informasi tentang lingkungan abiotik juga dilakukan dengan cara serupa.

Pemanfaatan drone di Hutan Harapan dimulai sejak awal 2014, yakni  jenis Fix Wing dan Quatcopter. Fix Wing merupakan jenis pesawat tanpa awak yang memiliki sayap. Karena penggunaannya lebih rumit dibandingkan Quatcopter, Fix Wing jarang dipakai. Memang, dengan Fix Wing wilayah jelajahnya lebih luas dan jam terbangnya lebih lama karena ia menggunakan satu baling-baling dan bersayap. Baterainya juga lebih hemat. Hanya saja, Fix Wing harus memliki landasan yang luas yang sulit ditemui di dalam kawasan hutan. Saat ini Hutan Harapan mengoperasikan jenis Quatcopter untuk kegiatan GIS dan pemantauan kawasan.

Agustiono salah satu pilot drone Hutan Harapan, menjelaskan Quadcopter  yang digunakan di Hutan Harapan adalah jenis Tarot Ironman 650 yang memiliki kemampuan terbang dan mendarat dengan sistem autopilot. Drone jenis ini dapat terbang dengan durasi penerbangan sekitar 40 menit dan mampu mencover areas seluas 25 hektare dalam sekali terbang.

Agustiono menjelaskan, drone di Hutan Harapan dioperasikan untuk mengidentifikasi perubahan tutupan lahan, derah terbuka yang disebabkan kebakaran hutan, perambahan hutan, illegal loging dan  identifikasi jenis vegetasi.

Lebih rinci Agus menjelaskasn, operasional drone diawali dengan penentuan petak luas 150 ha menjadi 6 grid terbang. Kemudian dibuatkan misi terbang dengan mission planner. Jarak terbang, overlap foto, kecepatan terbang dan ketinggian drone pada tahap ini harus ditentukan. Tahapan berikutnya adalah survei lokasi lepas landas dan operasional. 

Tim drone Hutan Harapan, yang beranggotakan Habibi, Randi, Sarwo, Zelvin, dan Agustiono menjalani pelatihan berbulan-bulan oleh Tom Swinfield, peneliti dari Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) yang pernah menjadi technical asssistant di Hutan Harapan. Pelatihan juga meliputi bongkar pasang peralatan drone hingga belajar misi terbang.

“Tidak semua orang mendapat kesempatan belajar dan mengoperasikan teknologi canggih seperti drone ini. Dengan drone Hutan Harapan bisa melakukan pemetaan dari atas dan dapat membantu memonitor kondisi kawasan hutan,” ujar Habibi, salah satu pilot drone Hutan Haraoan. Tidak jarang, kata dia menceritakan kisah yang tidak menyenangkan, drone mengalami kecelakaan, jatuh dan di lain waktu cuaca mengagalkan misi terbang. Menariknya, setiap kerusakan drone masing-masing anggota tim ikut memperbaiki sendiri.

Tim drone Hutan Harapan telah melakukan memetakan areal seluas sekitar 200 hektare. Dengan adanya tim ini, manajemen Hutan Harapan sangat terbantu dalam pemetaan dan monitoring kawasan Hutan dan dapat menghemat sumber daya manusia dan biaya. (Penulis: Agustiono, pilot drone HH; editor: Joni Rizal; foto-foto oleh: Tim drone Hutan Harapan)

Join Initiative of

Supported by