Restoring Indonesia's Forest
for Future Needs

Batin Sembilan

Batin Sembilan merupakan masyarakat adat yang beraktivitas di dalam hutan dataran rendah Sumatera antara Jambi dan Sumatera Selatan sejak abad ke-7, masa Kerajaan Sriwijaya. Mereka menyebar di dalam hutan dan menggantungkan hidup di kawasan penyedia hasil hutan untuk diperdagangkan oleh Kerajaan Sriwijaya melalui Selat Malaka.

Merujuk beberapa sumber, suku Batin Sembilan merupakan keturunan dari Kesultanan Jambi yang menguasai beberapa hulu sungai. Secara tradisional, kelompok suku ini sejatinya hidup nomaden di hutan. Berbeda dari  Orang Rimba yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Suku Batin Sembilan lebih terbuka dan cepat beradaptasi dengan pihak luar.

Masyarakat Batin Sembilan berinteraksi dengan pendatang sejak zaman Belanda dan menerima masuknya orang-orang kolonial yang menggali sumur-sumur minyak. Terbukanya interaksi ini menyebabkan mereka secara cepat beradaptasi dengan perubahan dan bahkan menetap bersama penduduk desa.

Pemerintah mengelompokkan suku Batin Sembilan ke dalam  istilah Suku Anak Dalam dan menyamakan mereka dengan suku-suku marjinal lainnya dalam sebutan Suku Kubu.  Generasi muda Batin Sembilan dewasa ini memilih modernisasi, meninggalkan pekerjaan hutan dan cenderung bekerja di perusahaan-perusahaan, terutama di perkebunan kelapa sawit.

Populasi Batin Sembilan di Provinsi Jambi sekitar 1.491 keluarga (KKI Warsi, 1998), yang tersebar di 20 desa dalam tiga kabupaten, yakni Batanghari, Muarojambi dan Sarolangun. Beberapa keluarga ditemukan dalam wilayah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kebanyakan (85 persen) mereka hidup dan berada di desa-desa dan pinggiran areal konsesi perusahaan dengan kondisi sangat marjinal.   Sekitar 15 persen atau 300 keluarga hidup di dalam kawasan Hutan Harapan.

Batin Sembilan yang bermukim di Hutan Harapan masih melakukan praktik-praktik tradisional dan menjalankan kosmologi yang merefleksikan interaksi panjang dengan lingkungan dan alam. Hutan bagi mereka adalah lahan untuk menerapkan praktik perladangan gilir-balik, mencari hasil hutan non kayu, tempat berburu, tempat mencari obat, dan mempertahankan sistem pengetahuan tradisional.

Manajemen Hutan Harapan memberikan perhatian khusus kepada Suku Batin Sembilan melalui berbagai kegiatan pemberdayaan. Di antaranya, penyedian kesehatan dasar, pendidikan dasar bagi anak-anak usia sekolah, penyaluran dan pembinaan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, penyediaan air bersih, pemukiman dan penerangan listrik.(*)

 

Join Initiative of

Supported by